Ketika Kita Membiarkan Charger Tercolok di Stop Kontak…

Jujur siapa sih di antara kita yang sering membiarkan charger adaptor tercolok ke stop kontak? Jujur, gue juga salah satunya.

Gadget di generasi milenial sudah bukan hal yang diperlu diwahkan. Nah, tentu gadget-gadget ini membutuhkan pasokan listrik untuk tetap dapat hidup dan beroperasi. Caranya tentu melalui pengisian daya aka (as known as) charging, yang dilakukan hampir setiap hari setiap malam.

Saking rutinnya melakukan charging, tentu kita tidak mau diribetkan memasang dan mencabut chargernya berkali-kali. “Malas donggg.” Ya sudah, biarkan saja deh tetap tercolok di dinding.

Hal ini sangat kontradiktif dengan anjuran sebagian besar pihak, termasuk produsen smartphone sendiri yang selalu menyarankan kita mencabut wall charger ketika tidak digunakan dengan alasan boros energi. Benarkah demikian?

Faktanya

Berdasarkan studi yang dilakukan Lawrence Berkeley National Library pada tahun 2012, dilansir dari JalanTikus, rata-rata charger yang terhubung ke sumber listrik tanpa dicolok ke smartphone hanya menyedot daya 0,26 watt. Sedangkan saat charger mengisi ulang smartphone, maka aliran listrik yang terpakai adalah 3,68 watt.

Hal yang sama juga dilihat dari hasil pengujian HowToGeek menggunakan alat Kill A Watt. Saat menghubungkan 6 adaptor charger tanpa smartphone yang terhubung ke stop kontak listrik, angka penunjuk Kill A Watt hanya menunjukan angka 0,3 watt saja!

Angka yang terbilang kecil ya. Tapi, apa jadinya jika digunakan selama satu tahun?

Untuk memastikannya apakah boros listrik atau tidak, maka kita harus mengukur dengan cara menghitungnya. Asumsi jika kita biarkan charger terhubung selama setahun, maka:

0,3 watt * (24 jam * 365 hari) = 2.628 watt jam atau 2,628 kWh

Tarif dasar listrik PLN per Februari 2017 adalah Rp1.467,28 per kWh. Jadi jika dikalikan, dengan charger tetap tercolok ke stop kontak maka dalam setahun tarif listrik yang dibebankan adalah sekitar Rp3.855.

Boroskah?

Boros atau tidak, sebenarnya kembali ke kacamata kita dari sisi bagaimana kita melihatnya.

Jika dari sisi personal, membayar 3 ribuan Rupiah per tahun tentu bukan masalah bagi sebagian besar kita. Uang parkir ke mall sejam saja lebih mahal malah. Tentu tidak signifikan dalam menambah tagihan atau mengurangi pulsa token listrik di rumah.

Namun bagaimana jika dilihat dari sisi global? Penggunaan sekitar 2,628 kWh dengan tarif sekitar Rp3.855 adalah hanya berlaku untuk 1 charger. Namun cobalah bayangkan di rumah kita sendiri ada berapa orang, lalu ada berapa charger yang tercolok?

Kemudian belum lagi dikalikan rumah di satu kompleks, satu RT, satu RW, satu kota, satu negara, atau bahkan satu Bumi. Berapa banyak listrik yang terbuang dalam setahun? Dan bagaimana dengan polusi yang dihasilkan dari produksi listrik tersebut?

Kita Harus Bagaimana?

Anak kekinian mah bilangnya “Bomat!” alias bodoh amat untuk memikirkan hal-hal kecil seperti ini.

Ngapain charger dan gadget berbaterai diciptakan jika akhirnya malah menyusahkan dan merepotkan?

Toh teknologi yang ada sekarang ini, diciptakan untuk kemudahan dan memudahkan hidup kita.

Yah, itu tidak salah kok. Pendapat itu tidak dapat disalahkan dan tidak dapat dibenarkan. Namun at least, kita sebagai kaum “berpendidikan” tentu harus mencari win-win solution dan melihat dari sisi yang berbeda.

Pemborosan listrik dengan charger tetap tercolok, dari data di atas harus diakui tetap ada karena terbuang sia-sia.

Namun sebaliknya bagi yang tidak sadar, jika charger sering dicabut dari stop kontak, juga ada risiko tersendiri. Stop kontak menjadi cepat longgar dan charger bisa lebih cepat rusak. Ingat saja ketika charger dicabut, otomatis kita akan meletakkan charger di meja atau suatu tempat, yang seringkali membuat kabel-kabel terlihat kusut berantakan dan menjadi mudah putus.

Jadi, yang dapat kita lakukan adalah?

Menambahkan switch alias saklar di stop kontak. Saklar ini akan memutus listrik ketika dimatikan. Saklar bisa berupa steker tambahan yang mudah sekali didapatkan di toko-toko listrik atau mengganti stop kontak yang memang memiliki saklar langsung.

Sehingga pada waktu kita malas mencabut-cabut ketika tidak digunakan, cukup matikan saja switchnya. Tanpa disadari, sudah tidak ada lagi yang namanya listrik terbuang percuma sedikit pun.

Mudah? Ya, semudah itu. :mrgreen:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s