Root-Seeking Tour Story: Hujan Es di Musim Panas (Part 5)

Melanjutkan kisah dari keseruan rombongan SMSC Root-Seeking Tour 2015 di Beijing, kali ini kami bakal menjajaki Beijing lebih dalam lagi. Satu hal yang gue suka dari Beijing, selain trotoar yang cukup bersih dan nyaman bagi pejalan kaki, kota ini memiliki perpaduan arus modernitas dengan tradisi lokal yang berjalan bersamaan.

Kota ini masih mempertahankan bangunan lamanya, tapi juga dibarengi dengan pembangunan sarana dan prasarana yang modern seperti MRT, gedung-gedung pencakar langit, dan bus kota yang memiliki rel.

Bus kota di sini cukup unik, karena memiliki rel di atasnya sehingga pengendara bus tak bisa seenaknya mengambil jalur bagi kendaraan lain. Suatu inovasi yang menarik, guys.

Di part ini gue bakal lanjutin cerita kami soal menjelajah tempat-tempat wisata lainnya di Beijing. Di sini kami akan berkunjung ke lapangan tempat pembantaian massa yang paling terkenal dalam sejarah dunia. Lalu kami akan berkunjung ke kuil yang sangat terkenal di Beijing. Selain itu kami bakal menghadapi dinginnya hujan es yang membuat badan menggigil.

Langsung saja kita mulai perjalanan kita. Check this out.

Selasa, 5 Agustus 2015

Hari itu gue terbangun dengan pertanyaan yang terus membayangi gue, “What happened last night?”

Gue sama sekali tidak menduga bahwa grup ini yang awalnya gue anggap individualis dan terkotak-kotak, ternyata mampu bersatu demi satu tujuan dan satu cinta yaitu Lei Ge Ge. Gue gak bakal menyangka, kami bakal kompak untuk lari sekencang-kencangnya agar Lei Ge Ge tak dimarahi oleh Nenek Lampir.

Di sini gue belajar bahwa masalah dapat menguatkan kami. Kami kuat karena suatu masalah yang pada akhirnya kami harus bersatu untuk mencapai tujuan bersama. Seperti bangsa kita yang bersatu untuk melawan penjajah. Yeah.

Hari ini kami akan berkunjung ke Tiananmen dan juga Forbidden City. Lalu siangnya kami bakal mencicipi hidangan khas Beijing yang sangat terkenal yaitu bebek peking. Setelah makan siang, kami bakal menonton pertunjukan tarian tradisional Tiongkok di salah satu sekolah seni. Malamnya kami bakal ada gladi resik lagi untuk persiapan acara penutupan.

Setelah sarapan, kami masuk ke bus yang membawa kami ke Tiananmen dan Forbidden City.

 

20150805_093921.jpg

Di bus seperti biasa banyak yang tidur terutama Bok dkk yang masih kelelahan karena kejar-kejaran dengan waktu malam sebelumnya.

Ketika kami melihat foto Mao Zedong, tokoh revolusioner Tiongkok, itu artinya kami sudah sampai di Tiananmen.

Tiananmen hari itu sangat padat dan kami harus ekstra hati-hati terhadap barang bawaan kami. Tiananmen berukuran 30 kali lapangan sepakbola dan sangat terkenal sebagai tempat pembantaian 3.000 mahasiwa yang melakukan aksi unjuk rasa kepada pemerintahan. Sesuatu yang mengingatkan gue soal Tragedi Trisakti dan Semanggi di pelajaran sejarah.

Cuaca musim panas selalu membuat kami selalu kegerahan. Kalau panasnya saja dapat kami tahan, tapi yang membuat kami gerah adalah sinar matahari yang sangat silau dan tajam. Di Pekanbaru, cuacanya juga sama panasnya dengan di Tiongkok waktu itu, tapi sinar mataharinya tidak sesilau seperti musim panas di Tiongkok.

Setelah puas berfoto dengan latar gedung dan foto Mao Zedong, kami masuk ke dalam Tiananmen yang ternyata adalah istana kaisar pada zaman dahulu yang bernama Forbidden City (Kota Terlarang).

Di dalam Forbidden City, hampir-hampir mirip dengan Summer Palace yang kami kunjungi kemarin. Terdapat ruang-ruang kaisar, permaisuri, dan selir pada zaman dahulu.

Tapi Laoshi Rini mengatakan bahwa Forbidden City ini adalah istana bagi kaisar untuk menjalankan roda pemerintahannya sehari-hari. Sementara Summer Palace hanya tempat peristirahatan bagi kaisar di musim panas.

20150805_092830.jpg

20150805_100450.jpg
Di dalam Forbidden City
20150805_091821.jpg
Gedung milik pemerintahan Tiongkok yang bakal kami pakai untuk acara penutupan nantinya

Setelah puas berkeliling Forbidden City, kami pun dibawa ke suatu restoran untuk mencicipi kuliner khas Beijing yaitu bebek peking.

Bebek peking adalah bebek yang dipanggang dengan bumbu-bumbu khas Tiongkok, lalu dimakan dengan menggunakan kol yang diiris-iris dan dibungkus dengan kulit lumpia. Kita bisa mencocolnya dengan saus yang khas rasanya jika kita mau.

Cara memakannya cukup unik, karena kita harus mengambil kulit lumpia dulu, lalu mengambil beberapa potong bebek yang sudah diiris dan kol yang sudah diiris. Setelah itu kita tambahkan saus dan kita gulung lumpianya baru bisa kita makan.

Ribet banget ya makannya.

Setelah puas mengenyangkan perut dengan bebek peking, beberapa anggota negara lain pun banyak yang tidur karena kelelahan. Momen mereka tidur di restoran tak lupa gue abadikan lewat kamera HP.

20150805_125513.jpg
Abang Kakak lelah, dek

Setelah memuaskan perut, kami langsung di bawa ke salah satu sekolah seni untuk menonton pertunjukan murid-murid mereka menampilkan tarian tradisional Tiongkok.

280541

Tarian yang ditampilkan membuat kami semua terkagum-kagum akan kelincahan tubuh mereka. Selain tarian mereka juga menampilkan musik tradisional Tiongkok yang cukup menghibur kami.

Setelah puas menonton pertunjukan seni itu, kami dibawa kembali ke hotel untuk beristirahat. Kebetulan waktu itu makan malamnya masih harus menunggu 2 jam lagi. Jadi waktu yang ada gue pakai untuk tidur dan berendam di bath tub.

Setelah makan malam, kami kembali ke gedung sebelah untuk gladi resik. Gladi resik kali ini kami sudah lebih matang dari gladi resik sebelumnya dan gerakan bendera kali ini juga ditambah dengan beberapa gerakan baru.

Setelah gladi resik, kami pun kembali ke hotel dan briefing bersama Laoshi Rini. Setelah briefing, ada yang kembali ke kamar masing-masing, ada juga yang main kartu bridge di kamar Bok dan tentunya Titol juga ikutan.

Rabu, 6 Agustus 2015 

Hari ini kami bakal nonton film di bioskop yang ada di dekat hotel. Lalu setelah makan siang, kami bakal pergi ke Bird Nest Stadium yang digunakan sebagai tempat pembukaan Olympic Games 2008 di Beijing. Dan juga ke Beijing National Aquatic Center yang ada di sebelah Bird Nest Stadium.

Setelah sarapan, kami pun berjalan kaki ke mall yang gak jauh dari hotel. Sekitar 15 menit kami jalan kaki, kami pun sampai. Sekilas mall ini mirip banget sama Summarecon Mall yang ada di Serpong.

Kami nunggu di sekitar mall itu sekitar 30 menit, sebelum filmnya di putar. Film ini berjudul “Champion” yang mengangkat kisah hidup atlet Tiongkok pertama yang memenangi mendali emas di olimpiade. Dia adalah Xu Haifeng, seorang atlet menembak yang memenangi emas di Olimpiade Los Angeles 1984.

Di film itu kita bakal melihat kisah Xu yang tidak mudah dalam mewujudkan mimpinya menjadi pemenang olimpiade. Berkali-kali ia gagal tapi akhirnya ia bisa bangkit kembali dan akhirnya ia berhasil memenangi mendali emas pertama bagi Tiongkok yang pada akhirnya menginspirasi atlet Tiongkok lain untuk menjadi juara.

Pembinaan bibit-bibit muda menjadi kunci kesuksesan Tiongkok dalam bidang olahraga. Dari kecil, atlet-atlet berbakat sudah dilatih dengan keras untuk menjadi juara di kemudian hari.

Buktinya, sekarang Tiongkok menjadi negara yang disegani dalam setiap pergelaran Olimpiade dan pada Olimpiade London yang lalu mereka berhasil menjadi juara umum.

Setelah menonton kisah Xu Haifeng, di akhir cerita ditampilkan iklan yang bertujuan mempromosikan kota Beijing yang menjadi kandidat tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022. Setelah sukses menggelar Olimpiade Musim Panas 2008, kini Beijing kembali bersaing dengan negara lainnya demi menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022.

Kabar terbaru yang gue dapat, ternyata Beijing telah resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022.

Setelah balik ke hotel dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Beijing Olympic Stadium (Bird Nest Stadium) dan juga Beijing National Aquatic Center yang berada dalam kompleks yang sama.

Pertama kami berkunjung terlebih dahulu ke Beijing National Aquatic Center. Tempat ini memiliki keunikan dalam strukturnya karena menggunakan gelembung-gelembung air.

20150806_134840.jpg

20150806_140311.jpg

Selain struktur bangunan yang unik, tempat ini juga memiliki museum olahraga yang menampilkan sejarah dunia olahraga Tiongkok dari masa ke masa dan juga menampilkan prestasi yang telah dicapai Tiongkok di bidang olahraga.

Ada sesuatu yang unik yang gue temukan di museum olahraga itu, yaitu dinding yang menuliskan tentang Xu Haifeng sebagai orang Tiongkok pertama yang memnangi olimpiade. Tak lupa kami berfoto di dinding itu.

IMG_9102.JPG

Selain itu kami banyak melakukan aksi-aksi kocak dan gila yang hasilnya seperti ini.

IMG_9109.JPG
Boys squad
IMG_9120.JPG
Adegan di atas umur (18+)
IMG_20150830_153944.jpg
Anak kecil aja bengong lihat kegilaan kami

Urat malu kami mungkin sudah putus saat itu.

Setelah puas mengelilingi Beijing Aquatic Center dan juga museumnya, kami pun keluar dan berjalan kaki menuju ke Bird Nest Stadium yang ada di sebelahnya.

Memiliki struktur luar seperti sangkar burung, stadion ini dibangun untuk menyambut Olimpiade 2008 di Beijing. Sayangnya, kami tidak masuk ke dalamnya, hanya berfoto-foto di luarnya saja.

IMG_20150806_152217.jpg

IMG_9133 (1).JPG

Setelah puas berfoto ria, kami pun kembali ke hotel dan makan malam. Setelah makan malam, kami sempat briefing terlebih dahulu terkait pengumuman penting yang Laoshi Rini ingin sampaikan.

Pengumuman pertama adalah kami harus menyiapkan kesan dan pesan untuk Laoshi Rini, Laoshi Fatimah, dan juga Lei Ge Ge.

Yang kedua adalah nantinya bakal dibagikan kertas yang digunakan untuk menyampaikan pesan bagi kota Beijing yang nantinya bakal ditempel di museum olahraga yang ada di Beijing Aquatic Center saat pergelaran Olimpiade Musim Dingin 2022.

Besoknya kami bakal dibagikan kertas gambar tempat kami bakal melukiskan kreativitas kami menyampaikan kesan dan pesan bagi kota Beijing dalam menyambut Olimpiade Musim Dingin 2022.

Setelah briefing dan pengumuman penting itu, kami pun kembali jalan-jalan santai di sekitar hotel. Kali ini kami ke mall yang sama ketika kami nonton bioskop tadi.

Gue seperti biasa cuma mutar-mutar di mall. Lalu ke supermarket beli makanan ringan untuk dimakan di hotel.

Uniknya di supermarket ini, gue menemukan INDOMIE.

20150806_203333
INDOMIE, mie dari Indonesia. Kalau lo laper jangan putus asa. Solusinya M U R A H. Hahaha rasanya gila.

Harga Indomie di sana cukup mahal, hampir 3 kali lipat harga Indomie di Indonesia. Untuk satu pack yang berisi 6 bungkus Indomie, harganya mencapai 17,50 yuan atau kira-kira Rp 36.000,00.

Setelah puas berjalan-jalan kami pun balik ke hotel. Tak lupa kami pun mampir ke McD untuk beli makanan ringan.

Sesampainya di hotel seperti biasa, ada yang langsung ke kamarnya dan beristirahat. Ada juga yang main kartu bridge di kamar Bok.

Kamis, 7 Agustus 2015

Hari ini setelah sarapan, kami akan menuju ke tempat terakhir yang akan kami kunjungi sebelum acara penutupan yang dihadiri 5.000-an orang.

Hari ini kami bakal pergi ke Temple of Heaven. Setelah itu kami bakal makan siang dan pergi ke pasar yang menjual barang-barang seni baik kontemporer maupun modern. Lalu rencananya malam kami bakal gladi resik di ruang pertemuan yang biasa kami gunakan.

Sekitar pukul 09.00, bus kami pun sampai di Temple of Heaven. Temple of Heaven adalah kuil umat Tao yang dibangun pada masa dinasti dulu untuk mengucapkan syukur atas keberhasilan panen.

Screenshot_2015-08-12-21-17-48.png

Kami pun masuk ke dalam nya dan berfoto-foto. Sayangnya kami tidak boleh untuk masuk ke dalam kuilnya dan hanya boleh berfoto dari luar saja.

20150807_095510.jpg

20150807_104249 (1).jpg

Setelah puas berfoto-foto, kami pun kembali ke hotel untuk makan siang.

Setelah makan siang dan beristirahat sebentar di hotel, kami melanjutkkan perjalanan ke pasar seni.

20150807_145629.jpg

Di pasar yang lebih mirip kompleks perbelanjaan itu, kami hanya berputar-putar melihat toko-toko yang ada. Di pasar ini sama juga seperti Nanluoguxiang, setiap toko memiliki ciri khas yang unik. Ada juga kafe-kafe berdiri di sepanjang jalan. Sesuatu yang mengingatkan gue soal Ciwalk di Bandung.

Setelah 1 jam kami berjalan-jalan, kami pun balik ke bus dan kembali ke sekolah TK yang gue ceritakan di part 4.

Di sana kami belajar lagu yang akan kami nyanyikan di acara penutupan. Lagu ini juga merupakan tema dari summer camp ini. Judulnya adalah “四海一家” yang artinya Empat Lautan Satu Keluarga.

20150807_154827.jpg
Lirik lagu Si Hai Yi Jia

Lagu ini sesuai dengan visi dan misi dari pemerintah Tiongkok yang mengadakan summer camp setiap tahunnya. Mereka memiliki tujuan untuk mempertemukan berbagai negara di dunia dan mengenalkan kebudayaan lokal dari masing-masing negara. Tentunya juga mengenal kembali budaya leluhur yang ada di Tiongkok. Selain pertukaran budaya, kita juga diharapkan mampu menjalin relasi dengan negara lain dengan tidak memandang perbedaan suku, agama, dan ras. Bersatu demi mewujudkan perdamaian dunia.

Setelah belajar lagu Si Hai Yi Jia, rencananya malam ini ada gladi resik di gedung sebelah. Tapi karena hujan badai yang begitu kuat, sampai-sampai menjadi hujan es membuat malam itu tidak ada kegiatan sama sekali.

Makan malam yang diadakan di gedung sebelah pun, kami harus menerjang badai dan juga gempuran es yang siap menghujam kepala kami. Untungnya kami membawa payung dan juga jas hujan. Beberapa dari kami ada yang pergi makan malam, ada juga yang tidak karena sakit.

Selain melewati derasnya hujan, tantangan bagi kami untuk jalan ke gedung sebelah adalah banjir yang cukup tinggi. Dan parahnya, air yang menggenang sangat dingin. Jadinya kami berjalan di genangan air es.

Kesempatan langka seperti ini pun, tak gue sia-siakan untuk mengambil serpihan es yang ada, lalu difoto dan dipamerkan ke kawan-kawan di Indonesia.

IMG_20150807_200550.jpg

20150807_191040.jpg

Setelah menunggu 30 menit di restoran sambil menyantap lamian yang gue sudah tambah 2 kali untuk menghangat badan, kami pun kembali ke hotel.

Di hotel, 2 teman gue Vinson dan Bok ternyata pergi ke luar lagi buat membantu Jessica Coutinho dari Oman untuk mencari sandalnya yang hilang karena banjir.

20150806_183316.jpg
Bok dan Jessica. Foto gue ambil diam-diam.
20150807_094412.jpg
Gue dan Jessica.

Ternyata Jessica ini adalah sepupu dari pemain sepakbola terkenal Phillipe Coutinho yang bermain di Liverpool. Beruntung juga, gue bisa selfie sama sepupu dari pemain sepakbola terkenal.

Setelah setengah jam di tengah badai dan kegelapan malam, Vinson, Jessica, dan Bok berhasil menemukan sandalnya yang terseret arus hingga ke parkiran mobil.

Malam itu juga gue langsung berendam di air panas dan rasa dingin pun langsung hilang.

Malam itu kami menghabiskan malam dengan bermain kartu bridge dan juga iseng-iseng menelepon kamar anak-anak dari rombongan Kanada untuk mengerjai mereka. Kami dan rombongan Kanada memang cukup dekat di akhir-akhir perjalanan ini.

Sekian dulu, Root-Seeking Tour Story Part 5-nya. Part berikutnya adalah bagian pamungkas dari perjalanan yang luar biasa dan tak terlupakan selama 2 minggu di negeri panda ini.

Bagaimana akhir perjalanan kami?

Bagaimana pula acara penutupan yang dihadiri 5.000 orang?

Dan bagaimana rencana kami memberikan surprise kepada Pandi yang berulang tahun?

Kita tunggu saja akhir cerita kami di Root-Seeking Tour Story Part 6. Stay tune, guys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s