Root-Seeking Tour Story: Mengunjungi Keajaiban Dunia hingga Kejar-Kejaran di Jalanan Beijing (Part 4)

Setelah beristirahat penuh semalamnya, perjalanan tim dilanjutkan dengan menjelajah kota Beijing. Ibukota dari negara dengan penduduk terbesar di dunia ini bakal menjadi saksi segala keseruan, kegilaan, hingga keharuan tim Root-Seeking Tour 2015. Satu minggu ke depan, kami bakal menghabiskan waktu di kota yang terkenal akan keajaiban dunia yang sangat tersohor yaitu Tembok Raksasa Tiongkok.

Bagaimana kelanjutan kisah kami di Beijing? Lalu bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang gue ceritakan di part sebelumnya.

Ayo kita mulai saja perjalanan kita di mulai dari sini.

Sabtu, 2 Agustus 2015

Hari itu di mulai dengan sarapan. Sarapan kali ini kami harus berjalan kaki dari gedung tempat menginap ke gedung yang lain.

Hotel yang kami tempati ternyata memiliki beberapa gedung. Gedung yang digunakan untuk breakfast adalah gedung yang berbeda dengan gedung yang kami tempati untuk menginap.

20150809_114208.jpg
Satu minggu ke depan, tempat ini bakal jadi tempat kami memuaskan perut setiap harinya

Pilihan makanan yang ada cukup beragam, mulai dari makanan di hotel pada umumnya seperti nasi goreng, mi goreng, ayam, capcay sampai makanan barat seperti pasta, pizza, sosis, dan bacon pun ada.

20150809_114211.jpg
Sang koki pembuat Lamian

Lamian yang selalu jadi favorit kami ketika bosan dengan pilihan makanan yang ada

Lamian adalah mie tarik khas Tiongkok yang adonannya dibuat dengan cara ditarik, dibentangkan lalu dilipat agar membentuk benang-benang mie. Lamian di hotel kami selalu disajikan dengan kuah yang berbeda-beda setiap hari. Di restoran ini, kita boleh memilih apakah mau mie yang tebal, tipis, ataupun yang berwarna hijau.

Setelah puas mengisi perut, hari ini dibuka dengan acara pembukaan summer camp di Beijing. Acara kali ini berbeda dengan acara sebelumnya di Changsha yang berlangsung kaku dan formal.

Jika pada acara pembukaan di Changsha berlangsung dengan pidato dan foto bersama, maka acara pembukaan di Beijing selain pidato formal juga ada acara hiburan. Kebetulan perwakilan dari Kanada yang satu grup dengan kami menampilkan tarian khas Tiongkok.

20150802_100622.jpg
Pilih yang mana, mblo?

Setelah acara pembukaan, kami langsung makan siang karena kebetulan sudah pukul 12.00. Ada hal unik yang gue mau ceritakan soal kebiasaan makan buffet yang unik dari Lei Ge Ge.

Lei Ge Ge selalu mengambil makanan dengan jumlah yang sangat banyak. Hampir semua makanan di restoran ia ambil. Awalnya gue pikir mana mungkin orang sekurus Lei Ge Ge bisa menghabiskan makanan itu semua.

Tapi ternyata  ia bisa habiskan semua. Bahkan tak bersisa. Nasi, mi, daging, sayuran, pasta, roti, buah-buahan ia habiskan semua yang ia ambil. Satu hal yang patut dicontoh jika kita makan buffet di hotel, bahwa kita harus mengambil porsi makanan sesuai porsi yang sanggup kita habiskan. Kadang kita bisa seenaknya mengambil makanan dan seenaknya juga membuangnya. Tapi tanpa kita sadari, banyak saudara-saudara di luar sana yang kelaparan dan kekurangan makanan.

Setelah makan siang, kami dibawa ke Nanluoguxiang Street. Nanluoguxiang adalah jalan yang di kiri-kanannya dapat kita temui toko-toko yang menjajakan berbagai jajanan maupun pernak-pernik khas negeri Tiongkok. Mulai dari makanan ringan, restoran, toko pernak-pernik hingga toko aksesoris handphone pun ada di sini.

Yang gue suka di sini adalah jalanan yang bersih dan penataan toko-toko yang rapi dan setiap toko memiliki ciri khas yang unik. Tapi sayangnya, WC yang ada di pusat perbelanjaan ini sangat kotor dan bau. Setiap tempat memang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

1445011175612.jpg
Yang segar-segar juga ada di sini

Kami mengunjungi berbagai toko yang ada dan banyak yang membeli pernak-pernik seperti gantungan kunci, gelang, tempelan kulkas, boneka panda bahkan case handphone. Kelak gue baru sadar bahwa harga barang-barang di sini jauh lebih murah ketimbang di tempat-tempat wisata seperti Great Wall dan Tiananmen.

Setelah 2 jam berputar-putar di Nanluoguxiang, kami pun kembali ke bus dan balik ke hotel. Sesampainya di hotel, kami langsung makan malam lagi dan kemudian briefing seperti biasanya.

Setelah briefing kami pun jalan-jalan santai di sekitar hotel. Lalu kembali lagi ke hotel untuk beristirahat dan bersiap untuk hari esok.

Minggu, 3 Agustus 2015

Pagi yang baru dan hari yang baru.

Seperti biasa, pagi selalu diawali dengan sarapan di restoran hotel. Menurut gue, jadwal hari ini yang paling membosankan sepanjang camp.

Hari ini kami diarahkan untuk menuju ke restoran yang ada di gedung yang sama dengan tempat kami nginap. Di situ kami bakal nonton pertunjukan wayang tradisional Tiongkok.

445.jpg

Berbeda dengan wayang di Indonesia yang memiliki karakter-karakter seperti Gandreng, Petruk, dan sebagainya, wayang khas Tiongkok lebih menampilkan cerita rakyat yang diwayangkan. Karakter yang ada pun lebih ke binatang-bintang seperti kodok, burung angsa, ikan, dan lainnya. Banyak dari kami yang tidak terlalu excited dengan pertunjukan wayang ini, sehingga banyak juga yang sibuk bermain gadget atau berbicara dengan teman di sebelahnya.

Berbeda dengan rombongan dari Kanada yang gue perhatikan sangat excited dengan pertunjukan yang ada. Mereka bahkan ada yang maju ke depan untuk mencoba memainkan karakter wayang yang ada.

Selanjutnya kami makan siang di restoran hotel seperti biasa.

Lalu selanjutnya kami pergi ke sekolah yang gue terkejut setelah sampai di sana, ternyata itu adalah TK. Gue pikir “Ngapain sih, kita ke TK?” By the way, TK itu cukup dekat dengan hotel kami menginap.

Ternyata sebelum masuk ke dalam sekolahnya, kami berbaris dulu di luar. Kesempatan seperti ini tak disia-siakan buat foto bareng.

IMG_20150803_155604.jpg

Setelah beberapa saat, kami masuk ke dalam sekolah itu dan kami di bawa ke satu ruangan. Ternyata, saat itu kami bakal mendapat penjelasan tentang sejarah seni menggunting di Tiongkok.

IMG_20150803_155557.jpg
Maafkan aku yang dulu

Setelah mendengar penjelasan tentang seni menggunting khas Tiongkok yang gue gak ngerti orang yang jelasin ngomong apa, kami dibawa ke ruangan yang lain buat mempraktikkan langsung seni menggunting itu.

Sayangnya, gue gak ada foto yang kami lakukan waktu itu. Hasil yang gue buat, sudah pasti jauh dari kata bagus karena memang gak berbakat dalam seni rupa kayak ginian.

Ini nih gue kasih foto keseruan anggota lain dalam membuat hasil guntingan mereka.

S__79511555.jpg

Dan ketika kami pulang dari TK itu, ternyata hujan lebat pun datang. Untungnya dari panitia sudah disediakan jas hujan dan payung yang dibagikan di awal kedatangan kami di Beijing.

Walaupun ini musim panas, bukan berarti cuacanya bakal panas terus kayak di gurun pasir. Kadang-kadang juga ada hujan dan bahkan ada hari ketika hujan es datang. Serius gue gak bohong. HUJAN ES. Yang jatuh dari langit es beneran seperti es batu yang kita minum sehari-hari.

Di part berikutnya, gue bakal ceritakan pengalaman kami menerjang badai es demi sesuap nasi dan mengisi kekosongan perut kami.

Sesampainya di hotel, kami langsung makan malam di restoran. Lalu mandi dan bersih-bersih karena malam ini kami bakal ada gladi resik untuk persiapan acara penutupan nantinya. Gladi resik kali ini dipimpin oleh dua orang Laoshi. Yang satu menyampaikan informasi dengan bahasa Mandarin, yang satu lagi menerjemahkannya ke bahasa Inggris.

Untuk kalian tahu, gladi resik kali ini dilakukan di ruangan yang sama dengan ruangan yang dipakai saat acara pembukaan kemarin.

Gladi resik kali ini kami belajar gerakan bendera yang terdiri dari bendera hijau, merah, dan bendera nasional Tiongkok. Selain bendera juga ada pom-pom yang biasa digunakan oleh cheerleader.

Nantinya, gerakan bendera ini bakal ditampilkan saat upacara penutupan yang melibatkan 3000 orang dari seluruh camp yang berasal dari penjuru Tiongkok, Macau, dan Hongkong yang berkumpul di gedung pertunjukan yang sangat besar dan mewah.

Karena bosan dengan acara gladi resik itu salah satu kawan kami, Pandi berteriak-teriak sampai ia ditegur oleh pantia. Sesuatu yang lucu dan menghibur ketika melihat Pandi ditarik-tarik oleh panitia untuk maju ke depan, tapi akhirnya si panitia itu menyerah juga dan hanya memperingatkan Pandi.

Setelah gladi resik, kami balik ke gedung tempat kami menginap dan briefing bersama Laoshi Rini di kamarnya.

Di sini lah klimaks dari segala permasalahan yang sempat menggantung dan mengganjal gue. Ada beberapa anggota kami yang gue kurang suka karena sikapnya yang selalu bicarain gue dari belakang dan menyebut gue dengan inisial yang membuat gue tidak nyaman. Emosi gue saat itu langsung memuncak tapi untungnya gue masih sabar dan berusaha menahan perkataan yang hendak gue ucapkan.

Tapi akhirnya pada saat ketika briefing kami selesai dan gue melemparkan umpatan yang gue ingin bilang dari tadi. Sontak, gue lihat reaksi mereka langsung bengong dan terdiam.

Setelah keluar dari kamar Laoshi Rini pun, suasana berubah menjadi tidak kondusif lagi. Kala itu gue ingin curhat dan menumpahkan isi hati gue ke orang yang masih bisa gue percaya, tapi gue ragu. Akhirnya, pergilah gue ke kamar Bok yang ada tepat di samping kamar Laoshi Rini.

Beberapa saat kemudian, Laoshi Rini dan Pandi pun datang ke kamar Bok untuk mendengarkan segala keluh kesah gue. Gue tumpahkan segala hal yang mengganjal dan gue di sini bisa ngerasain sisi lain dari Laoshi Rini.

Jika sebelumnya kalian berpikir Laoshi Rini adalah orang yang galak, tegas, dan disiplin itu benar. Tapi di sini gue ngerasain kasih sayang dan perhatian dia dalam membantu menyelesaikan masalah.

Jauh dari orangtua kami, membuat Laoshi Rini sadar akan perannya sebagai orang tua bagi kami semua. Dengan tenang dan penuh perhatiannya dia memberikan nasihat dan saran bagi gue untuk tidak mempedulikan omongan dari orang yang tidak menyukai kita. Dia juga berpesan untuk tidak takut menjadi diri sendiri walau hal itu bakal membuat diri kita tidak disukai oleh segelintir orang.

What doesn’t kill you, make you stronger.

Hari itu ditutup dengan kelegaan yang luar biasa. Di akhir kami tertawa karena candaan dari Bok yang selalu bisa mencairkan suasana. Ditambah lagi, kawan kami dari Laos, A Guang alias Titol datang ke kamar Bok untuk main kartu bridge.

20150803_230104.jpg
Polos-polos tapi jago mainnya.

A Guang atau yang kami kenal dengan Titol adalah bagian dari rombongan Laos yang juga bergabung bersama Grup Hunan. Titol sehari-harinya ia kurang dekat dengan kawan-kawan Laosnya. Bahkan ketika sedang jalan-jalan, ia bergabung dengan gue, Bok, Pandi, dan yang cowok Indo lainnya. Titol ini cuma bisa bahasa Laos dan Mandarin. Titol gak bisa bahasa Inggris, sehingga sulit bagi gue untuk ngomong langsung sama dia. Tapi karena ada Bok dan Citto yang bisa bahasa Mandarin, mempermudah kami untuk berkomunikasi dengan dia.

Di setiap perjalanan, ia selalu bawa kamera dan juga sering kami suruh untuk fotoin kami. Bercanda ria dengan dia dan bertukar informasi soal keunikan negara masing-masing adalah hal kecil tapi sangat bermakna bagi kami dan Titol.

Titol Titol (Tinggi Tolol) kaulah yang paling aku rindukan sekarang.

Senin, 4 Agustus 2015

Hari yang baru dengan semangat yang baru (lagi).

Nasihat dari Laoshi Rini dan Pandi semalam benar-benar buat aku menjadi pribadi yang baru dan dengan semangat yang baru untuk melanjutkan perjalanan.

Hari ini bakal seru banget karena kami bakal berkunjung salah satu situs keajaiban dunia yaitu Tembok Raksasa Cina Tiongkok (长城) dan Summer Palace.

Setelah sarapan dan masuk ke dalam bus, perjalanan menuju Tembok Raksasa memakan waktu hampir 1 jam. Oleh karena itu, banyak dari kami yang tidur di bus waktu itu.

Sesampainya di Tembok Raksasa, kami langsung ikut pemandu wisata kami masuk ke dalamnya. Tak lupa kami berfoto di depan tembok yang dulunya dibangun untuk pertahanan dari serangan musuh itu.

IMG_20150804_184207

IMG_20150804_184226.jpg
Asiknya Bok dan Citto makan es krim tunggal tunggal.

Sambil terus mendaki, kami yang cowok-cowok menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk menambah semangat kami mendaki. Kegilaan seperti ini emang selalu muncul di saat yang tak kita duga. Tidak ada jaim-jaiman bagi kami, walau di sekeliling kami banyak juga turis mancanegara yang berkunjung.

Tembok Raksasa mengajarkan gue banyak hal soal kerja keras dan pengorbanan. Menurut ceritanya, untuk membangun tembok yang panjangnya 8.850 km ini dilakukan secara manual dengan memindahkan satu per satu batu agar membentuk tembok yang kokoh. Butuh banyak jiwa dan raga yang dikorbankan demi mencapai tujuan terbentuknya sebuah tembok yang kini siapa saja di dunia ini tahu akan keberadaannya.

20150804_090339

Setelah capek mendaki Tembok Raksasa Tiongkok, kami sempatkan juga untuk melihat-lihat souvenir khas Tiongkok yang banyak di jual di sekitar Tembok Raksasa. Mulai dari lukisan, tempelan kulkas, hingga boneka panda. Bahkan plakat bahwa kita telah mendaki Tembok Raksasa juga ada. Tapi sayangnya, harga di sini lebih mahal daripada di Nanluoguxiang.

Setelah cukup lelah dan bergelut dengan keringat yang terus bercucuran karena matahari musim panas yang amat menyengat, kami melanjutkan perjalanan ke restoran tempat kami makan siang.

Di restoran ini, gue mengeluarkan kerupuk maicih level 10 yang gue bawa dari Indonesia untuk dibagikan ke rombongan. *bukan promosi*

Awalnya hanya kami-kami saja yang cobain, tapi lama-lama Bok dan Pandi dengan ide gilanya menawarkan kerupuk Maicih ke semua orang. Tampak Lei Ge Ge mukanya memerah karena kepedasan dan juga rombongan Kanada yang juga kepedasan.

Makan siang itu diakhiri dengan canda tawa yang pecah di seluruh ruangan, karena keseruan kami melihat orang negara lain kepedasan dan menampilkan ekspresi yang lucu.

Perjalanan kami lanjutkan lagi ke Summer Palace. Summer Palace adalah istana bagi kaisar kerajaan zaman dahulu untuk beristirahat di musim panas. Di dalam kompleks Summer Palace terdapat beberapa ruangan kerajaan dan juga kolam yang sangat ikonik.

IMG_8707.JPG
Di pintu masuk Summer Palace
20150804_151724.jpg
Numpang foto si Titol dengan Pieter
20150804_153947.jpg
Bersama Lei Ge Ge dan juga makhluk astral yang merusak keindahan foto (Vinson)

Setelah puas mengelilingi kompleks peristirahatan kaisar itu, kami pun kembali ke hotel. Menurut gue Summer Palace tidak memiliki keunikan dibandingkan tempat wisata lain yang bakal kami kunjungi di part 5.

Sesampainya di hotel, ternyata Bok kurang enak badan dan ia beristirahat sebentar. Tapi karena kebetulan jadwal hari ini kosong (tidak ada gladi resik), Laoshi Rini pun mengajak kami dan Lei Ge Ge berjalan-jalan.

Laoshi Rini dan Lei Ge Ge terlebih dahulu izin ke ketua rombongan Hunan, Nenek Lampir. Sangat sulit untuk mendapatkan izin dari dia.

Tapi berkat kecerdikan dan alasan dari Laoshi Rini yang sangat kuat, membuat kami boleh jalan-jalan keluar hari ini. Laoshi Rini pun berjanji pada pukul 22.00 kami sudah balik ke hotel.

Sehingga pada pukul 18.00 berangkatlah kami beserta Bok juga ke stasiun MRT terdekat. Sangat sulit bagi kami mencari stasiun MRT terdekat, karena Lei Ge Ge yang belum pernah ke Beijing dan kami hanya mengandalkan maps dari HP Lei Ge Ge.

Setelah berputar-putar selama setengah jam, kami pun menemukan stasiun MRT. Gue masih ingat nama stasiunnya itu Agricultural Exhibition Center Station.

Sistem MRT di Beijing hampir sama dengan di Singapura. Yang membedakan hanya cara pembelian tiketnya saja.

Jika di Singapura, kita membeli tiket MRT lewat mesin tiket, di Beijing bakal ada counter-counter yang menjajakan tiket MRT. Untuk membeli tiketnya, kita harus mendatangi salah satu counter, lalu memesan tiket sesuai tujuan di counter tiket yang tersedia.

 

Saksi bisu kejadian yang tak bisa gue lupakan sampai sekarang

Setelah Lao Shi Rini membeli 16 tiket menuju station tujuan kami, langsung kami masuk ke train yang sesuai dengan tujuan kami.

Suasana di dalam train sangat crowded. Kami harus berdiri dan berdesak-desakkan dengan penumpang lain. Selain itu, kami harus ekstra waspada dengan barang bawaan kami seperti dompet, HP, dll.

Setelah transit sebanyak dua station, kami pun sampai ke tujuan. Ternyata setelah keluar dari station terakhir, gue baru tahu bahwa kami dibawa ke salah satu mall yang cukup besar.

Di mall itu, gue dan Laoshi Rini membeli boneka di salah satu toko. Setelah itu kami pergi membeli beberapa makanan ringan seperti roti dan minuman. Lalu kami juga membeli makanan berat yang bakal di makan di hotel.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Kami pun langsung bergegas menuju station untuk kembali ke hotel, karena jam malam yang diberikan Nenek Lampir sudah mau habis. Mengejar waktu yang sudah semakin dekat membuat kami mempercepat langkah kami secepat kijang.

Hingga di station terakhir, terjadi sesuatu hal yang akhirnya membuat kami berlari seolah-olah dikejar zombie seperti dalam serial Walking Dead.

Waktu itu, pintu kereta sudah terbuka. Gue dan Vinson yang tertinggal di belakang pun tak mampu untuk masuk ke dalam kereta. Hal itu membuat kami harus menunggu kereta berikutnya.

Situasi sudah sangat panas dan semuanya panik ketika gue dan Vinson belum naik kereta dan harus menunggu kereta berikutnya. Sementara yang lain sudah masuk ke dalam kereta dan waktu sudah lewat dari pukul 22.00. Lewat dari pukul 22.00 berarti Lei Ge Ge bakal ditelepon-telepon oleh Nenek Lampir dan siap untuk mendengar ceramahnya.

Yang gue bisa lakukan waktu itu menelepon Laoshi Rini dan berharap semoga ia menjawab telepon gue. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Laoshi Rini pun mengangkat telepon dari gue.

Gue: (dengan panik) Halo Laoshi, kami harus turun di mana nih?

Ls Rini: Kalian lihat petanya, baru cari station yang namanya AGRICULTURAL EXHIBITION CENTER.

Gue: OK Laoshi!

Setelah menunggu beberapa menit, kereta berikutnya pun datang. Gue dan Vinson langsung bergegas naik. 10 menit kemudian, kami sampai di Agricultural Exhibition Center dan Evan langsung menunggu kami di depan kereta kami yang baru saja membuka pintu otomatisnya.

Evan: Ayo koh cepat-cepat, Nenek Lampir sudah nelpon-nelpon Lei Ge Ge. Udah merah muka Lei Ge Ge.

Laoshi Rini pun langsung memerintahkan kami untuk lari sekencang-kencang dari station menuju hotel. Langsung saja kami lari macam dikejar zombie, sampai-sampai polisi yang sedang bertugas di jalan itu pun menahan kami dan bertanya “Apakah ada masalah?”. Mungkin yang dipikir polisi itu adalah kami sedang mengejar maling.

Lucunya, Bok malah menunjukkan kartu pelajar sekolahnya kepada polisi itu. Lalu kemudian, Citto yang bisa berbahasa Mandarin pun menjelaskan kepada polisi itu bahwa kami sedang mengikuti summer camp dan mau balik ke Hotel Holiday Inn. Polisi itu pun melepas kami dengan terheran-heran.

Sesampainya di hotel, kami langsung balik ke kamar masing-masing dan bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa. Ada juga yang makan, ada juga yang langsung tepar karena hari yang melelahkan itu.

Hari yang melelahkan tapi sangat berkesan dan tak terlupakan. Hari itu gue belajar tentang tanggung jawab dari sikap Lei Ge Ge yang tidak begitu saja meninggalkan gue dan Vinson. Padahal bisa saja ia tinggalkan kami, dan ia balik ke hotel lalu tidak kena marah Nenek Lampir. Tapi demi tugas dan tanggung jawabnya, ia rela menanggung risiko yang ada demi sebuah kepercayaan yang lebih mahal harganya ketimbang ego pribadinya.

Di part berikutnya, gue bakal membahas tentang kelanjutan perjalanan kami mengunjungi beberapa tempat wisata terkenal di Beijing. Lalu kami juga akan menghadapi hujan es yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Bagaimana kelanjutan perjalanan kami?

Bagaimana kami menghadapi hujan es yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya?

Lalu bagaimana kelanjutan persiapan kami menghadapi acara penutupan?

Semua hal itu bakal gue jawab di Root-Seeking Tour Story Part 5. Stay tune, guys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s