Root-Seeking Tour Story: Menjelajahi Keindahan Lokasi Shooting Film Avatar (Part 3)

Setelah puas dengan keseruan, kegilaan, dan juga pengalaman berharga belajar budaya lokal seperti wushu, tari tradisional, melukis bunga, dan menyanyi lagu tradisional, kali ini kami akan melakukan perjalanan cukup panjang menuju utara Provinsi Hunan.

Seperti yang gue ceritakan sebelumnya di part 2, bahwa kami akan menuju Zhangjiajie pada hari kelima perjalanan SMSC Root-Seeking Tour 2015. Kali ini jadwalnya bakal lebih santai karena gak ada masuk kelas dan belajar seperti hari-hari sebelumnya.

Oke lah tunggu apa lagi langsung gue mulai cerita keseruan kami menjajaki kota yang menjadi situs warisan dunia oleh UNESCO tersebut.

Rabu, 30 Juli 2015

Hari itu diawali dengan merapikan barang bawaan kami dan tak lupa mandi serta membersihkan diri.

Setelah malam sebelumnya kami asyik bermain kartu bridge hingga tengah malam, pagi ini dengan muka-muka yang masih mengantuk, kami harus berangkat lagi.

Pukul 07.00 kami udah berkumpul di depan hotel untuk masuk ke dalam bus yang akan membawa kami menuju utara Provinsi Hunan. Perjalanan berlangsung cukup panjang dan membutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk sampai di sana.

Setelah perjalanan selama 1 jam pertama, kami pun berhenti sebentar di pom bensin buat buang air. Nah, di sini gue menemukan hal yang unik pada WC di pom bensin ini.

WC di pom bensin ini pada urinoir (tempat kencing berdiri khusus cowok), di atasnya terdapat iklan yang di tempel di dinding. Jadi orang yang buang air, mau tidak mau pasti melihat iklan itu. Salah satu cara promosi yang unik dan boleh coba diterapkan di Indonesia, nih.

20150730_101026.jpg

Setelah puas membuang hajat, kami pun langsung beranjak ke Zhangjiajie dengan perjalanan sekitar 3 jam lagi. Tapi sebelumnya, kami berhenti di salah satu restoran buat makan siang.

Setelah memuaskan perut, kami langsung menuju Zhangjiajie National Park buat hiking dan menelusuri keindahan tempat yang membuat kami semua penasaran, karena film terkenal seperti Avatar pun mengambil gambar di sini.

Pukul 14.00 kami sudah sampai di Zhangjiajie National Forest Park yang sangat eksotis ini dan kami siap melakukan hiking yang menempuh jarak kurang lebih 4 – 5 km.

Walau jalannya panjang dan melelahkan, kami tak bosan untuk melihat dan mengaggumi pemandang yang ada. Mulai dari  tebing berbatuan hingga bukit-bukit yang rimbun dan memiliki bentuk yang unik. Ada yang menyerupai wajah seorang raja, burung, dan lain-lain. Sayangnya tak ada yang menyerupai wajah seorang gebetan.

20150730_150633.jpg

20150730_160159.jpg

IMG_20150731_064719.jpg
Berfoto bersama di depan Zhangjiajie National Park

Setelah puas menikmati keindahan alam dan juga berfoto-foto ria, kami pun akhirnya sampai di titik finish kami sekitar pukul 17.00. Habis itu langsung kami dibawa oleh bus menuju ke hotel tempat kami menginap.

Sesampai di hotel kami langsung makan malam dan mengambil bagasi untuk menuju kamar masing-masing. Kami harus cepat bergegas karena waktu kami tinggal 15 menit saja di kamar hotel dan setelah itu bakal menuju ke suatu gedung opera untuk menonton suatu pertunjukan yang menampilkan kebudayaan lokal dari Provinsi Hunan.

Di sinilah terjadi permasalahan yang buat Laoahi Rini marah besar, bahkan ini adalah kali pertama dan terakhir gue lihat beliau benar-benar marah.

Waktu kala itu menunjukkan pukul 19.00 dan Laoahi Rini sudah menghimbau tepat pukul 19.00 kami semua harus berkumpul di lobby. Yang terjadi malah sebaliknya.

Karena lift yang ada sempit dan sulit untuk membawa bagasi kami yang banyak, banyak waktu kami yang habis terbuang hanya untuk membawa bagasi ke kamar kami di lantai 3. Sehingga waktu kami yang tersisa tinggal 15 menit buat beres-beres. Untuk sekedar mandi dan membersihkan badan saja tidak sempat.

Waktu itu, gue, Vinson, dan Vincent Makmur lewat sedikit dari pukul 19.00 baru sampai ke lobby. Gue pikir kami yang terakhir nyampai bus. Tapi ternyata, yang lain masih di lantai atas. Ketika lift sampai di lobby pun dan pintunya terbuka, gue udah lihat muka Laoshi Rini yang siap menerkam bak singa kelaparan.

Langsung saja gue dan 2 teman gue itu lari kelabakan ke bus. Sesampainya di bus, masalah gak langsung selesai. Gue mendapati HP gue ada yang menelepon dan gue angkat. Ternyata itu adalah Laoshi Rini yang mengira nomor HP gue itu adalah nomor Pandi.

Laoshi Rini: HALO PANDI MANA YANG LAINNYA CEPATTT TURUNNN (dengan nada marah)

Gue: Halo Lao Shi ini Vincent, udah sampai di bus.

Telepon langsung ditutup dan selang 5 menit kemudian Pandi dan yang lainnya sampai di bus. Laoshi Rini pun marah besar karena kami yang telat walau hanya beberapa menit tapi itu sangat berpengaruh kepada perjalanan kami.

Gue harus bilang dulu sebelumnya bahwa untuk menonton pertunjukan ini yang ikut cuma rombongan kami saja. Rombongan dari negara Laos dan Kanada tidak ikut karena ini bukan acara wajib. Untuk masuk dan menonton saja kami harus membayar 200 yuan. Tapi harga yang dibayarkan sangat worthed dengan kualitas pertunjukannya.

Pukul 19.25 bus kami pun sampai ke gedung pertunjukan itu. Di situ selain turis lokal, banyak juga turis mancanegara yang turut menyaksikan.

Pertunjukan itu menampilkan cerita daerah dari Provinsi Hunan yang ditata dengan apik bersama kolaborasi tarian tradisional, bela diri, dan nyanyian. Yang paling gue suka tentu saja tata panggung yang mewah tapi tetap berciri khas tradisional dan transisi dari satu set ke set yang lain yang sangat rapi serta menarik.

20150730_202457.jpg

20150730_204422.jpg

1393.jpg

Setelah pertunjukkan indoor, ada juga pertunjukkan yang outdoor. Tapi bedanya pertunjukkan outdoor lebih menampilkan bela diri khas Provinsi Hunan.

Setelah pertunjukkan tak lupa kami berfoto dengan pemain yang ada.

20150730_211413.jpg

20150730_211736.jpg
Beginilah pintu masuk gedung pertunjukannya

Setelah puas menyaksikan pertunjukan yang spekatakuler itu, kami pun balik ke hotel dan beristirahat karena besoknya kami akan hiking lagi tapi dengan rute yang berbeda.

Kamis, 31 Juli 2015

Hari ini dibuka dengan berkemas barang bawaan dan juga sarapan. Kami harus makan yang banyak karena hari ini bakal hiking lagi tapi dengan rute yang lebih pendek.

Hari ini jadwalnya kami bakal naik cable car lalu hiking dan siangnya kami pulang ke Changsha.

Untuk sekedar informasi, bahwa cable car yang kami naik ini adalah yang terpanjang di dunia. Gue baru tahu setelah buka Google.

Setelah naik cable car, kami akan melanjutkan hiking dengan rute yang berbeda. Di rute kali ini kami harus ekstra hati-hati karena jalannya lebih terjal dan banyak monyet liar yang kalau tidak hati-hati bakal siap menyerang kalian.

Tapi pemandangan untuk rute kali ini lebih keren dan epic dari sebelumnya. Lihat saja foto-foto kami ini.

1444479557129.jpg

1444520159648.jpg

PicsArt_1439472414366

Setelah puas berfoto-foto, kami pun langsung beranjak ke bus yang akan membawa kami kembali ke Changsha. Di perjalanan, kami sempat singgah di museum yang memamerkan batuan-batuan khas Tiongkok seperti batu giok. Sayangnya di museum ini kami tidak diperbolehkan mengambil foto.

Setelah dari museum, kami ke restoran buat makan siang. Lalu bus kembali melanjutkan perjalanan ke hotel yang sama ketika kami menginap di Changsha sebelumnya.

Pukul 17.00 kami sudah sampai di Changsa dan makan malam d restoran hotel. Lalu kami beristirahat karena besoknya kami harus bangun pagi untuk menuju ke stasiun kereta. Petualangan yang panjang, tak terduga, dan tak terlupakan sudah menanti di Beijing.

Malam itu juga gue merenungi semua hal yang sudah terjadi dan gue sempat curhat dengan kawan sekamar gue Vinson maupun Vincent Makmur. Sebenarnya dalam perjalanan ini ada satu permasalahan yang gue gak bisa ceritakan dan mengganjal di hati gue.

Malam itu ditutup dengan bantal gue yang basah karena rasa rindu gue kepada teman-teman di kelas gue dan SMA Santa Maria.

I miss home so much.

Jumat, 1 Agustus 2015

Pagi yang baru di bulan Agustus.

Dengan perasaan yang masih galau, gue harus melanjutkan perjalanan. The show must go on.

Pagi ini kami akan berangkat ke Beijing dengan kereta cepat lalu sesampainya di Beijing kami bakal menuju ke hotel yang bakal kami tempati sampai kami pulang ke Indonesia. Kelak semua kenangan manis, pahit, haru, dan tak terlupakan bakal tersimpan di hotel ini.

Pukul 07.00 bus kami sudah bertolak dari hotel di Changsha menuju ke stasiun kereta api di Changsha. Di stasiun itu pula kami bakal berpisah dengan Han Jie Jie (Cece Han) karena ia tidak ikut ke Beijing. Yang ikut hanya Lei Ge Ge dan “Nenek Lampir”.

S__26394627.jpg
See you again, Han Jie Jie
386.jpg
Foto bersama Han Jie Jie

Sekedar informasi, sekarang Han Jie Jie sudah lulus kuliah dan baru saja ia diwisuda. Selamat ya, Han Jie Jie.

Perjalanan dengan kereta kami tempuh dengan waktu 6 jam. Sepanjang perjalanan kami banyak yang tidur dan ada juga yang asyik bermain kartu bridge.

Kereta cepat ini memiliki bentuk seperti peluru sehingga disebut bullet train. Menurut sumber yang gue baca di internet kecepatan kereta ini di atas 300 km/jam.

Bagian dalam keretanya cukup nyaman. Walaupun kami duduk di kelas ekonomi, tapi di dalamnya cukup nyaman dan rasanya seperti di dalam pesawat terbang ketimbang kereta.

Karena baru pada sore harinya kami sampai di Beijing, jadinya kami makan siang di kereta. Kami sudah membeli burger di KFC stasiun kereta sebelumnya, dan ada juga teman-teman yang membagikan makanan ringan kepada kami.

Pukul 16.00 kami sampai di Beijing dan langsung menuju ke Hotel Holiday Inn yang bakal kami tempati seminggu ke depan.

20150809_094512

Setelah pembagian kamar, kami pun makan malam di restoran hotel. Makan malam kali ini berbeda dengan sebelumnya. Jika makan malam sebelumnya, makanan dihidangka ke meja-meja seperti saat kita ke pernikahan orang Tionghoa d hotel-hotel, makan malam kali ini adalah buffet dinner. Jadi kita mengambil sendiri makanan yang kita mau dan bisa tambah sepuasnya.

Setelah memuaskan perut yang sudah berbunyi sejak tadi siang, kami pun briefing sebentar di kamar Laoshi Rini mengenai jadwal kami selama di Beijing dan ia memberi tahu bahwa kali ini kami tak hanya bergabung dengan Laos dan Kanada saja, tapi berbagai negara. Di hotel yang kami tempati ini totalnya ada 5 grup kecil dan grup kami bernama Grup Hunan. Grup Hunan terdiri dari kami, Kananda, dan Laos.

Setelah briefing kami pun meutuskan untuk pergi keluar untuk jalan-jalan santai dan tentunya bersama Lei Ge Ge. Kedekatan kami dengan Lei Ge Ge memang sangat spesial jika dibandingkan dengan rombongan dari negara lainnya.

Hari ini kami cuma lihat ada apa-apa saja di sekitar hotel ini. Dan tak lupa kami mampir ke McDonald yang ada di dekat hotel. Untuk kalian tahu, waktu kami pergi ke Tiongkok, McDonald belum buka di Pekanbaru. Jadi wajar saja jika kami yang dari Pekanbaru sangat suka makan McDonald bahkan hampir setiap hari kami ke McDonald. Mumpung di Tiongkok, nih.

Kami pun membelikan Lei Ge Ge burger lengkap dengan minumannya, karena ia sudah mau menemani kami hingga sejauh ini perjalanan kami.

20150802_204003.jpg

Sekian dulu cerita gue di Root-Seeking Tour Story part 3 ini. Di part berikutnya kami akan menjelajah pasar yang bernama Nanluoguxiang dan juga berkunjung ke salah satu keajaiban dunia yang menjadi ikon negara Tiongkok.

Seperti apa keseruan kami menjelajah Nanluoguxiang Market?

Lalu bagaimana cara gue menyelesaikan permasalahan yang sempat gue ceritakan di atas?

Dan mengapa kami harus lari-lari tak karuan sampai kami ditahan oleh polisi lokal?

Semuanya bakal gue jawab di Root-Seeking Tour Story Part 4. Stay tune, guys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s