First Impression Yamaha Aerox 125 LC

on

Yamaha kembali memperkenalkan skutik terbarunya yang merupakan reinkarnasi dari Xeon. Berdesain lebih keren dan bongsor, siap ditawarkan kepada elo yang mencintai performa.

yamaha-aerox-125_01

Intermezzo

Sepeda motor jenis skuter matik (skutik) sendiri semakin merajarela di jalanan. Mulai dipasarkan oleh Kymco di Indonesia, kemudian dipopulerkan oleh Yamaha Mio, kini 8 dari 10 motor yang dijual di Indonesia adalah motor bertransmisi otomatis ini.

Yamaha Mio sempat menjadi primadona di masyarakat Indonesia, meski sekarang harus dikalahkan oleh merek kompetitornya Honda melalui Beat dan Vario seriesnya. Honda membanjiri pasar dengan beragam model dan fitur yang menjadi trendsetter membuat Yamaha terus mengejar ketertinggalannya. Salah satunya Xeon yang terus bertransformasi untuk menghadapi Vario 125.

Yamaha yang sudah merombak Xeon menjadi Xeon RC, kemudian GT 125 Eagle Eye, kini berganti baju lagi menjadi Aerox 125. Oh ya, GT 125 ini sendiri berbeda dengan Soul GT 125 meski mirip-mirip dari segi desain dan nama. Soul GT 125 jika gue tidak salah ingat adalah versi gede dari Mio M3 125 dengan mesin berteknologi Blue Core, yang diklaim irit dan bertenaga. Sedangkan GT 125 yang kini menjadi Aerox 125 LC ini menggunakan mesin yang mengedepankan performa dan tenaga bahkan diberi label “MotoGP DNA”.

Bagaimana impresi skutik yang menjadikan Valentino Rossi sebagai brand ambassador-nya ini?

yamaha-aerox-125_02

Aerox 125 LC, Skuter Matik untuk Pecinta Performa

Aerox 125 LC (Liquid Cooled) adalah model baru yang diperkenalkan Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) pada awal Januari 2016 ini. Dengan berbagai model yang lebih keren, Aerox ini juga disertai fitur-fitur unggulan siap menjadikannya tampil beda.

Yup, Aerox 125 memang secara khusus didesain untuk kaum lelaki yang menginginkan kendaraan komuter yang macho dan gagah. Dimensi fisiknya yang bongsor semakin mempertegas segmennya itu. Lekukan menyudut dan tajam membuatnya semakin gahar dan membanggakan ketika dikendarai.

Tampak dari depan, lampu utama berupa LED berwarna putih terlihat sangat futuristik saat menyorot di malam hari maupun siang hari. Lampu sein depannya sendiri mengadopsi lampu sein motor sport yaitu Vixion, saudaranya sendiri. Benar, lampu seinnya diletakkan secara terpisah di dekat setang, yang setangnya berjenis terbuka yang ukurannya terbilang cukup lebar untuk sebuah skutik.

Speedometernya sendiri mencomot saudaranya X-Ride. Sayangnya dengan harga sekitar Rp18 jutaan, speedometer-nya hanya menggunakan tipe analog dan belum ada sinyal maupun panel digital sama sekali. Tidak ada eco indicator juga sebagaimana skutik Yamaha dengan mesin Blue Core.

Sedangkan di bagian ekornya, Aerox kembali “terinspirasi” dari Vixion. Desain stop lamp terlihat identik dengan lampu sein terpisah, nyaris seperti sepeda motor tipe sport. Tidak ada behel untuk pegangan pembonceng dan menggeser kendaraan saat parkir. Sebagai penggantinya, Yamaha membekalinya dengan coakan di bagian samping bawah body untuk memudahkan tukang parkir memindahkan Aerox ini jika diperlukan.

Jok tempat duduk konon disebut empuk *gue sendiri belum menaiki, jadi belum tahu*. Bagasinya luas namun tidak memuat helm full face. Untuk membuka jok sendiri cukup menggunakan mekanisme di lubang kunci utama tanpa perlu mencabut dan memindahkan kunci lagi ke belakang. Praktis dan memudahkan.

Mesinnya sendiri menggunakan mesin yang sama persis seperti para pendahulunya. Alih-alih menggunakan VVA seperti big skutik andalan pabrikan berlambang garpu tala, N-Max, teknologi Blue Core juga tidak disertakan. Alasan mereka adalah karena motor ini berorientasi performa, tidak sesuai dengan Blue Core yang mementingkan keseimbangan irit dan tenaga.

Power mesinnya sebesar 11,4 PS (8,4 kW) dengan torsi 10,4 Nm di putaran mesin 6.500 rpm. Masih sedikit berada di atas kompetitor utamanya. Namun kapasitas tangki bahan bakarnya “hanya” 3,8 liter mungkin akan membuatnya lebih sering mampir di SPBU.

Tertarik?

Ya kira-kira begitulah impresi perdana gue untuk model baru Yamaha ini. Bisa dibilang ini adalah Xeon RC yang diganti baju dengan part yang dicampur sana-sini dari saudara-saudaranya. Soal desain subjektif sih, namun cukup keren menurut gue.

Yamaha Aerox 125 LC mengakomodir keinginan pengguna setianya yang ingin memiliki skutik berbadan “agak” bongsor. Beda dengan skutik Yamaha sebelumnya yang terkesan bantet, kecil, dan imut-imut (kecuali N-Max yang kebesaran), Aerox hadir untuk kaum adam yang mau tampil lebih gagah. Performanya sendiri tidak akan memalukan jika mau diajak betot-betotan.

Soal fitur, beberapa titik utama masih terasa kurang semisal speedometer yang masih analog dan bagasi yang tidak sebesar dan sepraktis kompetitor utamanya. Perlu menjadi catatan sendiri sebelum meminangnya. Hasta manana!

Galeri Foto: Iwanbanaran.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s